Pages

Senin, 21 Oktober 2019

Teori Pendidikan ala 'John Dewey"

John Dewey adalah seorang filosofi asal Amerika yang lahir pada 20 oktober 1859 di Burlington, Vermont, Amerika Serikat. Dia adalah orang yang pertama kali menemukan teori (metode)  'belajar sambil melakukan'(learning by doing).

Menurut Dewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek yang dinamakan instrumentalisme. ini juga dianut oleh William James, Yaitu:


  1.  Temporalisme yaitu adanya gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
  2. Futuralisme yaitu mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
  3. Milionarisme yang artinya dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita.
KONSEP PENDIDIKAN JOHN DEWEY

Dewey memberikan prioritas pada kegiatan yang bermakna dalam pembelajaran dan partisipasi dalam demokrasi kelas. Siswa harus diinvestasikan dalam apa yang mereka pelajari. Dewey berpendapat bahwa kurikulum harus relevan dengan kehidupan siswa.

Dewey elaborated upon his theory that "school reflect the community and be patterned after it so that when children graduate from school they will be properly adjusted to asssume their place in society"

(pendidikan harus mampu membekali anak didik sesuai dengan kebutuhan yang ada pada lingkungan sosialnya. sehingga,  apabila anak didik tersebut telah lulus dari lembaga sekolah ia bisa beradaptasi dengan masyarakat)

untuk menerapkan konsep tersebut, Dewey mengajukan dua metode dalam pengajaran, yaitu:

  1. problem solving method, dengan metode ini anak dihadapkan pada berbagai situasi dan masalah-masalah yang menantang, dan anak didik diberi kebebasan sepenuhnya untuk memecahkan masalah-masalah sesuai dengan perkembangan kemampuannya. Dalam proses belajar mengajar model ini guru bukannya satu-satunya sumber, bahkan kedudukan seorang guru hanya membantu siswa dalam memecahkan kesulitan yang dihadapinya. Dengan metode semacam ini, dengan sendirinya pola lama yang hanya mengandalkan guru sebagai satu-satunya pusat informasi (metode pedagogy) diambil alih kedudukannya oleh metode andragogy yang lebih menghargai perbedaan individu anak didik.
  2. Kedua, Learning by doing. Konsep ini diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dalam masyarakat. Supaya anak didik bisa eksis dalam masyarakat bila telah menyelesaikan pendidikannya, maka mereka dibekali keterampilan-keterampilan praktis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sosialnya.


Teori Konstruktivisme
Beberapa kalangan menyebutkan bahwa pendiri teori konstruktivisme adalah Jean Piaget. Namun John Dewey sering dikutip sebagai pendiri filosofis dari pendekatan teori konstruktivisme ini. Bruner dan Piaget dianggap sebagai ahli teori utama di antara konstruktivis kognitif, sementara Vygotsky adalah ahli teori utama di antara konstruktivis sosial.
Dalam konstruktivisme John Dewey menolak anggapan bahwa sekolah harus fokus pada pengulangan, hafalan yang menghafal & mengusulkan metode "hidup terarah" - siswa akan terlibat dalam lokakarya praktis di dunia nyata di mana mereka akan menunjukkan pengetahuan mereka melalui kreativitas dan kolaborasi. Siswa harus diberi kesempatan untuk berpikir dari diri mereka sendiri dan mengartikulasikan pemikiran mereka.
Dewey menyerukan agar pendidikan didasarkan pada pengalaman nyata. Dia menulis, "Jika Anda ragu tentang bagaimana pembelajaran terjadi, terlibatlah dalam penyelidikan berkelanjutan: belajar, merenungkan, mempertimbangkan kemungkinan alternatif dan sampai pada keyakinan Anda yang didasarkan pada bukti."
John Dewey mengemukakan bahwa belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya saling terintegrasi bukan terpisah atau tidak mempunyai kaitan satu sama lain. Sugihartono dkk, 2007 dalam (Just Weare Noegayya 2012). Apabila belajar siswa tergantung pada pengalaman dan minat siswa maka suasana belajar siswa akan menjadi lebih menyenangkan dan hal ini akan mendorong siswa untuk berfikir proaktif dan mampu mencari pemecahan masalah, di samping itu kurikulum yang diajarkan harus saling terintegrasi agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan memiliki hasil maksimal
Menurut John Dewey, pendidikan adalah rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya. Seperti telah diuraikan di muka bahwa dalam teori konstruktivisme disebutkan bahwa permasalahan muncul dibangun dari rekonstruksi yang dilakukan oleh siswa sendiri, hal ini dapat dikatakan bahwa dalam pendidikan ada keterkaitan antara siswa dengan permasalahan yang dihadapi dan siswa tersebut yang merekonstruksi lewat pengetahuan yang dimiliki.
Dapat disimpulkan, bahwa pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya mampu membina pengetahuan mereka secara mandiri.
  3.  Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5.  Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6.  Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.

Sumber tulisan :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ENGLISH ASSESMENT TASK ( OLAH DATA)

 GROUP: DESI MARANATA ELENA .N NABILLA KHAIRUNNISA PEBRI YUNI BR HUTABARAT SRI NURANISA MAIDA DOKUMEN OLAH DATA ( ENGLISH ASSESMENT)