TUGAS INDIVIDU BUDAYA MELAYU
“SALAH SATU CIPTAAN BUDAYA YANG
TERDAPAT
PADA MASYARAKAT MELAYU RIAU”

DISUSUN OLEH :
DESI MARANATA (1888 203
022)
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. ULUL AZMI, M.A
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
2018/2019
SALAH
SATU CIPTAAN BUDAYA YANG
TERDAPAT
PADA MASYARAKAT MELAYU RIAU
“LESUNG
DAN ANTAN”
1. Pengertian
Lesung dan Antan (Alu)
Lesung
adalah alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi
alat ini memisahkan kulit gabah (sekam) dari beras secara mekanik. Lesung
sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang
bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut. Padi
atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang
sampai beras terpisah dari sekam.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lesung adalah perkakas yang dibuat dari
kayu atau batu yang berlekuk di tengahnya untuk menumbuk beras dan sebagainya.
Sedangkan, alu atau antan adalah alat untuk menumbuk padi dan sebagainya yang
dibuat dari kayu. Baik lesung maupun alu dibuat dari bahan kayu utuh. Kayu yang
digunakan biasanya berupa kayu jati, kayu nangka, sono keling atau glugu.

2. Sejarah
dan Penggunaan Lesung dan Antan
Dalam keseharian-nya, lesung
digunakan untuk mengolah beras dan fungsi lainnya adalah sebagai alat musik
yang umumnya digunakan oleh kaum wanita. Mengapa wanita? hal ini dikarenakan
dulunya wanita-lah yang biasanya melakukan kegiatan mengolah gabah tersebut
sementara pria bekerja di sawah.
Dikarenakan pekerjaan lesung yang
terkadang membosankan, mereka berinisiatif untuk memanfaatkan lesung tersebut
untuk dijadikan alat musik. Pola tumbukan yang monoton berubah menjadi
sahut-sahutan dan menghasilkan bunyi yang berbeda-beda.
Selain untuk menghasilkan suara yang
unik, dengan menggunakan pola yang bergantian juga mencegah terjadinya benturan
antar Alu penumbuk karena sebuah lesung bisa digunakan 4 hingga 6 orang
sekaligus.
Dulunya
proses mengolah dengan lesung dilakukan waktu subuh (sebelum matahari terbit).
Setelah selesai ditumbuk, proses yang dilalui kemudian adalah ditampeni
(disaring) dengan menggunakan alat yang terbuat dari bambu untuk memisahkan
beras dan dedak.
Untuk menggunakan lesung,
penggunanya harus memiliki stamina yang banyak dikarenakan teknik dan cara
memainkan alat musik lesung membutuhkan tenaga ekstra.
3. Musik
lesung
Bunyi-bunyian yang dihasilkan dari
hentakan antan dengan lesung yang indah
dan menyenangkan. Menumbuk padi menggunakan lesung dari bahan kayu yang cukup
besar, dibuat lubang yang dapat menampung sekitar dua atau tiga kilogram padi
sekali menumbuk. Padi ditumbuk beramai-ramai sangat menyenangkan. Biasanya
untuk menghilangkan rasa bosan dan letih dilakukan dengan bergembira. Satu
lesung ada yang sampai 4 atau 5 orang. Mereka mengerubuti lubang lesung untuk
menjatuhkan antan perlu seni tersendiri.
Mereka menumbuk dengan ritme tersendiri.
Disinilah letaknya kenikmatan dalam menumbuk padi bersama. Masing-masing
peserta, sudah siap menurut gilirannya, tidak pernah bentrok antara antan yang
satu denga yang lain. Sekali-kali memang tidak langsung masuk ke lubangnya
melainkan dipinggir lesung sehingga bunyinya berbeda. Bagi yang sudah biasa,
giliran yang diseling-seling itu mempunyai irama tersendiri. Suaranya terdengar
dari kejauhan dan mengundang bujang untuk datang. Suara tingkah menumbuk padi
itu lebih indah dari sebuah musik dangdut sekalipun. Hal seperti inilah yang
menciptakan irama yang indah dan menyenangkan bagi yang mendengar. Karena
menarik, ada juga orang yang sengaja datang untuk menikmati musik lesung ini
dan membantu menumbuk padi. Pekerjaan yang membuat lelah ini akhirnya
dikerjakan dengan keriangan.
4.
Musik menumbuk padi lesung Galagaran
Musik menumbuk padi
lesung Galagaran adalah Duriancacar, Gedabu,
Sungailimau dalam menumbuk padi. Apabila padi ladang telah dipanen dan
telah kering pula dijemur. Maka gadis-gadis Talang Mamak menumbuknya
beramai-ramai.
Ada keunikan tersendiri menumbuk padi
di Talang Mamak ini. Dimana hentakan antan (alu) secara bergantian akan muncul
galagaran ( ketuk atau kentongan) dan menimbulkan kesan musik yang enak
didengar.
Bunyi gelagaran hannya sekadar bunyi
semata, namun punya maksud tertentu pula, yaitu:
·
Memberi kabar pada tetangga atau pada
dusun lainnya bahwa disini kami telah panen
padi, bekerja sambil menghibur diri (bedundung), dan
·
memberi
kabar dan tanda kepada bujang-bujang yang telah pulang dari ladang untuk bertandang malam nanti.
Sumber:
https://alatmusikindonesia.com/cara-memainkan-alat-musik-lesung/
https://lamriau.id/budaya-melayu-riau-muatan-lokal-full/
Ensiklopedia kebudayaan
Melayu Riau