Pages

Senin, 22 Oktober 2018

Landasan psikologi pendidikan “ PERKEMBANGAN ANAK"

TUGAS KELOMPOK
LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN   
“ PERKEMBANGAN ANAK"


DISUSUN OLEH:
     NAMA KELOMPOK II  :          1. Desi Maranata       (1888203022)
                  2. Iffa Luxviya           (1888203017)
                  3. Putri Wahyuni       (1888203019)
       DOSEN PEMBIMBING : Mr. Mustakim JM, MPd
KELAS            :             1.1

PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
2018/2019



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT. atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Di dalam makalah ini, kami telah berusaha menguraikan sebaik mungkin semua hal yang berkaitan dengan “ LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN; PERKEMBANGAN ANAK ” Besar harapan kami agar pembaca mampu memahami lebih jauh tentang berbagai hal yang berkaitan dengan hal tersebut.
Akan tetapi, kami menyadari bahwa di dalam makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan yang tentunya mengakibatkan makalah ini masih dikatakan jauh dari sempurna. Maka dari itu, kami harapkan pembaca dapat memaklumi serta memberi kritik dan saran yang membangun demi terwujudnya makalah yang lebih baik di masa yang akan datang.

         

Pekanbaru, 08 Oktober 2018


Penulis










BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Psikologi berkembang diawali dalam bidang filsafat yang dikenal sebagai induk dari berbagai ilmu. Seorang ahli psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan berbagai karakteristik.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena  pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan anak optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
Psikologi perkembangan merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia baik dari lahir maupun sudah lanjut usia. Inilah suatu signifikan dari perkembangan rohani manusia itu sendiri yang dialami sejak ia lahir sampai menjadi dewasa. Dalam proses perkembangan rohani itu terjadi perubahan yang terus-menerus.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka. Dan kelak, orangtua juga yang akan mengalami penyesalan yang mendalam.
Dampak negatif dari perkembangan anak yang kurang perhatian dari orang tuanya adalah anak menjadi nakal dan susah diatur. Dan dampak lain yang ditimbulkan adalah perusakan moral yang dialami anak yang kemungkinan diakibatkan dari salah bergaul dan berteman. Dan akhirnya, anak-anak inilah yang membawa dampak buruk bagi teman-temannya.
Salah satu perusakan atau penurunan moral yang dialami anak-anak pada saat ini adalah dengan melihat video yang seharusnya belum pantas ditonton pada usianya. Perilaku negatif ini juga disebabkan dari perkembangan teknologi khususnya internet. Yang akibatnya, akan menurunkan prestasi belajar anak disekolah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
  1. Apakah yang dimaksud dengan psikologi perkembangan anak?
  2. Bagaimanakah hakikat psikologi perkembangan anak?
  3. Apa saja faktor-faktor perkembangan anak?
  4. Apa saja tahap-tahap perkembangan anak?
  5. Bagaimana karakteristik fase perkembangan?
  6. Apakah yang menjadikan anak-anak sekarang senang dengan internet?
1.3  TUJUAN PEMBUATAN
  1. Untuk mengetahui apa itu psikologi perkembangan.
  2. Untuk mengetahui apa saja hakikat psikologi perkembangan.
  3. Untuk mengetahui faktor-faktor perkembangan anak..
  4. Untuk mengetahui apa saja tahap perkembangan anak.
  5. Untuk mengetahui karakteristik fase perkembangan anak.
  6. Untuk mengetahui hal yang disenangi anak dari internet.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Psikologi Perkembangan
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, psikologi perkembangan itu dapat diartikan sebagai berikut:
·         Psikologi perkembangan merupakan “cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku” (J.P. Chaplin, 1979).
·         Psikologi perkembangan merupakan “cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati”(Rosta Vasta, dkk., 1992).
Jadi, Kedua pendapat di atas menunjukan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkah.

2.2.    Hakikat Psikologi Perkembangan
Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratotiumnya tahun 1879 yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani Kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Benua Amerika
Sebelum mempelajari psikologi perkembangan, perhatian berawal pada pemahaman yang mendalam pada anak-anak. Dasar pemikiran merujuk bahwa penelitian dan buku-buku tentang anak sedikit, pemahaman terhadap seluk beluk kehidupan anak sangat bergantung pada keyakinan dan tradisonal yang bersumber pada spekulasi para filsuf dan teolog tentang anak dan latar belakang perkembangannya, serta pengaruh keturunan dan lingkungan terhadap kejiwaan anak. Oleh karena itu, salah seorang filosof Plato mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar genetis. Potensi individu dikatakannya telah ditentukan oleh faktor keturunan. Artinya, sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat atau benih-benuh kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengasuhan dan pendidikan.
Walaupun Plato tidak dapat memberikan bukti langsung dalam menunjang spekulasinya, namun tampak jelas bahwa menurunnya anak merupakan miniature orang dewasa. Anggapan ini tampak bahwa semua keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang tampil di kemudian hari setelah dewasa merupakan bawaan lahir (innate ideas).
Proses-proses yang mendasari cara berfikir dan berbuat anak dianggap sama seperti orang dewasa. Apabila anak berpikir dan melakukan perbuatan yang menyimpang dari standar orang dewasa, anak dianggap bodoh dan apabila anak-anak melanggar norma-norma sosial dan moral, dianggap berbuat jahat dan harus diberikan hukuman seperti orang dewasa.
Pada abad ke-17, seorang filosof Inggris John Locke (1632-1704), menyatakan bahwa pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan anak, dia tidak mengakui adanya kemampuan bawaan (innate knowledge). Menurut Locke, isi kejiwaan anak ketika dilahirkan diibaratkan secarik kertas kosong, dimana corak dan bentuk kertas ini sangat ditentukan bagaimana cara kertas ini ditulis.
Rousseau dalam bukunya Emile ou L’education menolak pandangan bahwa anak memiliki sifat bawaan yang buruk (innate bad), dia menegaskan bahwa “All thinks are good as they come out of the hand of their creator, but everything degenates in the hand of man” (segala-galanya adalah baik sebagaimana keluar dari tangan sang pencipta, tetapi segala-galanya memburuk dalam tangan manusia). Pandangan ini dikenal dengan Noble Savage, ungkapan ini mengandung arti bahwa anak ketika lahir telah membawa segi-segi moral (hal-hal yang baik dan buruk, benar dan salah yang dapat berkembang secara alami dengan baik), jika kemudian terdapat penyimpangan dan keburukan hal ini dikarenakan pengaruh lingkungan dan pendidikan.
Pandangan Plato, Locke, Rousseau pada dasarnya bersifat spekulatif, walaupun pada abad ke-18 telah ada penelitian-penelitian tentang anak seperti Johan Heinrich Pestalozzi(1946-1827) ahli pendidikan dari Swiss, Dietrich Tiedemen tabib dari Jerman, namun penelitian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan anak-anak baru dimulai pada abad ke-19 yang dipelori oleh Charles Darwub dan Wilhem Wundt.
Manusia sebagai objek ilmu pengetahuan, dan dibicarakannya dari sejak munculnya filsafat dan ilmu, hingga sekarang dan pada masa mendatang, tidak pernah kehabisan materi atau problematikanya. Telaahan tersebut akan selalu saja menarik bagi manusia yang mau mempelajarinya. Hal tersebut dapat terjadi karena kompleksitas manusia itu sendiri sebagai objek garapan ilmu pengetahuan.
Termasuk jugak psikologi perkembangan yang memiliki objek garapnya adalah manusia, seringkali menemukan problematika yang sangat menarik, malah terkadang cenderung terasa berat untuk dipecahkan. Hal ini disebabkan karena kompleks dan uniknya manusia baik ditinjau dari sudut pandangan biologis maupun dari sudut pandangan psikologis. Tidak seorangpun didunia ini yang memiliki kesamaan total dengan manusia lainnya, terutama yang menyangkut urusan kondisi psikis atau jiwanya.
Didalam mengamalkan serta menerapkan konsep-konsep psikologi perkembangan perlu disadari bahwa:
a. Tidak ada seorang anak pun didunia yang memiliki kesamaan total dengan          lainnya.
b. Konsepsi-konsepsi didalam psikologi  perkembangan bukanlah pembatasan mutlak atau pasti sifatnya.
c. Konsepsi-konsepsi yang ada hanyalah lebih bersifat garis-garis besar atau pedoman umum yang berlaku  bagi perkembangan  kejiwaan anak pada umumnya.
Dengan demikian, maka penggunaan teori-teori maupun batasan-batasan yang ada didalam psikologi perkembangan terasa tidak ada hambatan ataupun persoalan yang mengajukan. Konsepsi atau teori-teori tentang  kejiwaan pada hakikatnya sangat banyak dan beragam sekali sifat serta pandangannya, sebagaimana banyaknya kemungkinan perkembangan jiwa seorang manusia yang kompleks dan unik.
            Akan tetapi kesemua konsepsi tersebut, untuk memudahkan mempelajari dapat  dikelompokkan menjadi 3 kelompok pandangan disebut dengan istilah periodisasi perkembangan. Periodisasi perkembangan manusia, setiap individu yang normal akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini di mulai sejak terjadinya peristiwa konsepsi hingga kelahiran menjadi seorang bayi, kemudian tumbuh berkembang sebagai anak-anak, remaja, dewasa sampai mati. Dalam rentang waktu yang cukup panjang ini, guna kegiatan studi ilmiah yang bersifat sistematis, maka para ahli psikologi perkembangan membagi-bagi menjadi tahap-tahap yang dapat dikenali ciri-cirinya.

2.3.     Faktor-Faktor Perkembangan Anak
Dalam proses perkembangan anak dalam kenyataanya memang tidak dapat dihindari adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. Dalam proses perkembangan (psikisnya) dari seorang anak. Adapun berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak yaitu:
a.  Faktor-faktor sebelum lahir, yakni adanya gajala-gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak masih didalam kandungan.
Contoh:
Adanya gejala/ peristiwa kekurangan nutrisi (zat-zat makanan untuk tubuh) pada ibu atau janin, terkenan infeksi oleh bakteri, sifilis, TBC, diabetes mellitus, dan lain-lainnya.
b. Faktor pada waktu lahir, yakni terjadinya suatu gangguan pada saat-saat anak dilahirkanya.
Umpamanya:
Terjadi defiect (kerusakan) susunan saraf pusat dikarenakan kelahirannya dengan bantuan alat sejenis tang (instrument birth), atau karena dinding rahim ibu terlalu sempit, maka terjadi tekanan yang kuat mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala, dan lain-lain.
c.  Faktor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi setelah anak lahir, terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak.

Contoh:
Adanya pengalaman anak yang traumatik (luka-luka) di kepala pada bagian luar atau dalam, karena benturan dengan benda keras, kekurangan gizi/vitamin, dan masih banyak contoh lainnya.
d.  Faktor psikologis
Yakni Adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat berfungsinya psikis, terutama yang menyangkut perkembangan inteligensi dan emosi anak yang berdampak pada proses pertumbuhan anak.

Adapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi anak antara lain adalaah:
a. Faktor herediter, yakni keturunan atau warisan sejak lahir dari kedua orangtuanya, neneknya, dan seterusnya yang biasanya diturunkan  melalu kromoson.
b.      Faktor lingkungan, yakni segala sesuatu yang pada lingkungan dia berada atau bergaul. Segala sesuatu yang berada diluar diri anak dialam semesta ini baik yang berupa makhluk hidup atau makhluk yang mati.

2.4  Tahapan perkembangan anak
            Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa:
Ø Infancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)
Ø Early childhood (usia 3-6 tahun)
Ø Middle childhood (usia 6-11 tahun)
Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:
Ø Fisik (motorik)
Ø Emosi
Ø Kognitif
Ø Psikososial
2.5 Karakteristik Fase Perkembangan Pada PraSekolah ( Usia Taman Kanak – Kanak ) dan Anak

2.5.1    FASE PRA SEKOLAH
1.   PERKEMBANGAN FISIK
            Perkembangan  fisik anak ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut. Kemampuan motorik tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.
USIA
KEMAMPUAN MOTORIK KASAR
KEMAMPUAN MOTORIK LEMBUT / HALUS
3 – 4 tahun




4 – 6 tahun
1. Naik dan turun tangga
2. Meloncat dengan dua kaki
3. Melempar bola


1. Meloncat
2. Mengendarai sepeda anak
3. Menangkap bola
4. Bermain olahraga
1. Menggunakan krayon
2. Menggunakan benda / alat
3. Meniru bentuk ( meniru gerakan orang lain )

1. Menggunakan pensil
2. Menggambar
3. Memotong dengan gunting
4. Menulis huruf cetak 

2.    PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
         Secara ringkas perkembangan intelektual masa prasekolah ini dapat dilihat pada tabel berikut.




PERIODE
DESKRIPSI
Praoperasional
1.   Mampu berpikir dengan menggunakan simbol (symbolic function).
2.        Berpikirnya masih dibatasi oleh persepsinya. Mereka meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya  terfokus kepada satu atribut / dimensi terhadap satu objek dalam waktu yang sama. cara berpikir mereka bersifat memusat ( centering ).
3.    Berpikirnya masih kaku tidak fleksibel. Cara berpikirnya berfokus kepada keadaan awal atau akhir dari suatu transformasi, bukan kepada transformasi itu sendiri yang mengantarai keadaan tersebut. Contohnya: Anak mungkin memahami bahwa dia lebih tua dari adiknya, tetapi mungkin tidak memahaminya, bahwa adiknya lebih muda dari dirinya.
4.    Anak sudah mulai mengerti dasar – dasar mengelompokkan sesuatu atau dasar satu dimensi, seperti atas kesamaan warna, bentuk dan ukuran.

3.    PERKEMBANGAN EMOSIONAL
            Beberapa jenis emosi yang berkembang pada masa anak, yaitu sebagai berikut.
a.    Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. Rasa takut terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan:
(1) mula – mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat kemungkinan bahaya yang terdapat dalam objek,
(2) timbul rasa takut setelah mengenal adanya bahaya, dan
(3) rasa takut bisa hilang kembali setelah mengetahui cara – cara menghindar dari bahaya.
b.    Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. kecemasan ini muncul mungkin dari situasi – situasi yang dikhayalkan, berdasarkan pengalaman yang diperoleh, baik perlakuan orangtua, buku – buku bacaan/komik, radio, atau film. Contoh perasaan cemas: anak berda di dalam kamar yang gelap, takut hantu dan sebagainya.

c.    Marah, merupakan perasaan tidak senang, atau benci baik terhadap orang lain, diri sendiri, atau objek tertentu, yang diwujudkan dalam bentuk verbal ( kata – kata kasar / makian / sumpah serapah ), atau nonverbal ( seperti mencubit, memukul, menampar, menendang, dan merusak ). Perasaan marah ini merupakan reaksi terhadap situasi frustasi yang dialaminya, yaitu perasaan kecewa atau perasaan tidak senang karena adanya hambatan terhadap pemenuhan keinginannya.
Pada masa ini rasa marah sering terjadi karena:
(1) banyak stimulus yang menimbulkan rasa marah, dan
(2) banyak anak yang menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapatkan perhatian atau memuaskan keinginannya. Berbagai stimulus yang menimbulkan perasaan marah, di antaranya: rintangan atas kebutuhan jasmaniah, gangguan terhadap gerakan – gerakan anak yang ingin dilakukannya, rintangan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, rintangan terhadap keinginan – keinginannya, atau kejengkelan – kejengkelan yang menumpuk.
            Sumber perasaan marah bisa berasal dari diri sendiri (seperti, ketidakmampuan dan kelemahan/kecacatan diri), atau orang lain (orangtua, saudara, guru dan teman sebaya).

d.    Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih saying dari seseorang yang telah mencurahkan kasih saying kepadanya. Sumber yang menimbulkan rasa cemburu selalu bersifat situasi sosial, hubungan dengan orang lain. Seperti kakak cemburu kepada adiknya, karena dia telah merebut kasih saying dari orangtuanya.
Perasaan cemburu ini diikuti dengan ketegangan, yang biasanya dapat diredakan dengan reaksi – reaksi:
 (1) agresif atau permusuhan terhadap saingan
 (2) regresif, yaitu perilaku kekanak – kanakan, seperti ngompol, atau mengisap             jempol
 (3) sikap tidak peduli; dan
 (4) menjauhkan diri dari saingan. 

e.    kegembiraan, kesenangan, kenikmatan, yaitu perasaan yang positif, nyaman, karena terpenuhi keinginannya. Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya terpenuhi kebutuhan jasmaniah ( makan dan minum ), keadaan jasmaniah yang sehat, diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan untuk bergerak ( bermain secara leluasa ), dan memiliki mainan yang disenanginya.

f.      Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian, atau perlindungan terhadap orang lain, hewan atau benda. Perasaan ini berkembang berdasarkan pengalamannya yang menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain (orangtua, saudara, dan teman), hewan (seperti, kucing dan burung), atau benda (seperti mainan). Kasih sayang anak kepada orangtua atau saudaranya, amat dipengaruhi oleh iklim emosional dalam keluarganya. Apabila orangtua dan saudaranya menaruh kasih sayang kepada anak, maka dia pun akan menaruh kasih sayang kepada mereka.

g.    Phobi, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya ( takut yang abnormal ), seperti takut ulat, takut kecoa, dan takut air. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orangtua yang suka menakut – nakuti anak, sebagai cara orangtua untuk menghukum, atau menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.

h.    Ingin tahu ( curiosity ), yaitu perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu atau objek – objek, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Perasaan ini ditandai dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan anak. Seperti anak bertanya tentang dari mana dia berasal, siapa Tuhan, dan di mana Tuhan berada. Masa bertanya ( masa haus nama ) ini dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncknya pada usia sekitar 6 tahun.  

4.    PERKEMBANGAN BAHASA
            Perkembangan bahasa anak usia prasekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap ( sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya ) yaitu sebagai berikut.
a.          Masa ketiga ( 2,0 – 6,0 ) yang bercirikan :
1)        Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.
2)        Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan, misalnya burung pipit lebih kecil dari burung perkutut, anjing lebih besar dari kucing.
3)        Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana dan dari mana.
4)        Anak sudah banyak menggunakan kata – kata yang berawalan dan yang     berakhiran.
b.    Masa keempat ( 2,6 – 6,0 ) yang bercirikan:
1)        Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
2)       Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu sebab akibat melalui pertanyaan – pertanyaan: kapan, ke mana, mengapa, dan bagaimana.

5.    PERKEMBANGAN SOSIAL
Tanda – tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah:
a. Anak mulai mengetahui aturan – aturan, baik dilingkungan keluarga maupun       dalam lingkungan bermain.
b.    Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c.    Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d.   Anak mulai dapat bermain bersama anak – anak lain, atau teman sebaya (neer group).
            Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh sosiopsikologis keluarganya. Apabila di lingkungan keluarga tecipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu ( bekerja sama ) dalam menyelesaikan tugas – tugas keluarga atau anggota keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan, atau penyesuaian sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
            Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ke Taman Kanak – Kanak. TK sebagai “ jembatan bergaul “ merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak untuk belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan menaati peraturan ( kedisiplinan ).

6.    PERKEMBANGAN BERMAIN
Usia anak pra sekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain, karena setiap waktunya diisi dengan kegiatan bermain. Yang dimaksud dengan kegiatan bermain disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. Terdapat beberapa macam permainan anak (Abu Ahmadi, 1977), yaitu sebagai berikut:
a.        Permainan Fungsi  (permainan gerak),
seperti meloncat-loncat, naik dan turun tangga, berlari-larian, bermain tali dan bermain bola.
b.       Permainan Fiksi ,
seperti menjadikan kursi sebagai kuda, main sekolah-sekolahan, dagang-dagangan, perang-perangan dan masak-masakan.
c.        Permainan Reseptif atau Apresiatif,
seperti mendengarkan cerita atau dongeng, melihat gambar dan melihat orang melukis.
d.       Permainan Membentuk (konstruksi),
seperti membuat kue dari tanah liat, membuat gunung pasir, membuat kapal-kapalan dari kertas, membuat gerobak dari kulit jeruk, membentuk bangunan rumah-rumahan dai potongan-potongan kayu (plastik) dan membuat senjata dari pelepah daun pisang.
       e.    Permainan Prestasi,
             seperti sepak bola, bola voli, tenis meja dan bola basket.

            Secara psikologis dan pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak, di antaranya :
a.       Anak memperoleh perasaan senang, puas, bangga atau berkatarsis (peredaan ketegangan),
b.      Anak dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab dan kooperatif (mau bekerja sama),
c.       Anak dapat mengembangkan daya fantasia tau kreativitas (terutama permainan fiksi dan konstruksi).
d.      Anak dapatmengenal aturan atau norma yang berlaku dalam kelompok serta belajar untuk menaatinya,
e.       Anak dapat memahami bahwa baik dirinya maupun orang lain, sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan,
f.       Anak dapat mengembangkan sikap sportif, tenggang rasa atau toleran terhadap orang lain.

7.        PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Aspek-aspek perkembangan kepribadian anak itu meliputi hal-hal berikut.
a.       Dependency & Self-Image
Konsep anak pra sekolah tentang dirinya sulit dipahami dan dianalisis, karena ketrampilan bahasanya belum jelas dan pandangannya terhadap orang lain masih egosentris. Mereka memiliki sistempandanga dan persepsi yang kompleks, tapi belum dapat menyatakan. Perkembangan sikap “Independensi” dan kepercayaan diri (self confidence) anak amat terkait dengan cara perlakuan orang tuanya. Sebagai orang tua, mereka memberikan perlindungan kepada anak dari sesuatu yang membahayakan dan dari kefrustasian. Gaya perlakuan orang tua kepada anak, ternyata sangat beragam, ada yang terlalu memanjakan, bersikap keras, penerimaan dan kasih sayang, dan acuh tak acuh (permisif). Masing-masing perlakukan itu cenderung memberikan dampak yang beragam bagi kepribadian anak.
Anak yang biasa dihukum karena pelanggaran biasa dengan tidak memberikan kasih sayang atau perhatian kepadanya, maka anak tersebut cenderung lebih dependen daripada anak yang diikuti keinginannya dengan pengasuhan atau perhatian yang cukup dari orangtuanya dirumah, maka ia akan menuntut perhatian dari guru pada saat dia sudah masuk TK.
Namun apabila perlindungan orang tua itu terlalu berlebihan (terlalu memanjakan) maka anak cenderung kurang bertanggung jawab dan kurang mandiri (senantiasa meminta bantuan kepada orang lain). Salah satu penelitian Braumbrind (Ambron, 1981) menemukan bahwa anak yang orang tuanya memberikan pengasuhan atau perawatan yang penuh kehangatan dan pemahaman serta memberikan arahan atau tuntunan (pemberian tugas sesuai dengan umurnya), maka anak akan memiliki rasa percaya diri (self-confidence), bersikap ramah, mempunyai tujuan yang jelas dan mampu mengontrol (mengendalikan) diri. Sementara anak yang di kembangkan dalam keluarga yang memperturutkan semua keinginan anak dan bersikap persimif, cenderung mengembangkan pribadi anak yang kurang memiliki arah hidup yang jelas dan kurang percaya diri.
b.      Initiative vs Guilt
Erik erikson mengemukakan suatu teori bahwa anak prasekolah mengalami suatu krisis perkembangan, karena mereka menjadi kurang dependen dan mengalami konfliks antara “Initiative dan Guilt”. Anak berkembang, baik secara fisik maupun kemampuan intelektual serta berkembangnya rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Mereka menjadi lebih mampu mengontrol lingkungan fisik sebagaimana ia mampu mengotrol tubuhnya. Anak mulai memahami bahwa orang lain memiliki perbedaan dengan dirinya, baik menyangkut persepsi maupun motivasi (keinginan) dan mereka menyenangi kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Perkembangan ini semua mendorong lahirnya apa yang disebut Erikson dengan initiative (inisiatif). Pada tahap ini, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Yang berbahaya pada tahap ini, adalah tidak tersalurkannya energi yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka memenuhi keinginannya), karena mengalami hambatan atau kegagalan, sehingga anak mengalami guilt (rasa bersalah). Perasaan bersalah ini berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, dia bisa menjadi nakal atau pendiam (kurang bergairah).
Faktor eksternal yang mungkin menghambat perkembangan inisiatif anak, diantaranya :
(1) tuntutan kepada anak di luar kemampuannya,
(2) sikap keras orang tua/guru dalam memperlakukan anak,
(3) terlalu banyak larangan dan 
(4) anak kurang mendapat dorongan atau peluang untuk berani                                mengungkapkan perasaannya, pendapatnya atau keinginannya.

8.        PERKEMBANGAN MORAL
     Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya) anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik/boleh/diterima/disetujui atau buruk/tidak boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pemahamannya itu, maka pada masa ini anak harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku (seperti, mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur dan membaca basmalah sebelum makan).
Pada saat mengenalkan konsep-konsep baik-buruk, benar-salah, atau menanamkan disiplin pada anak, orang tua atau guru hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya. Seperti:
(1) mengapa menggosok gigi sebelum tidur itu baik,
(2) mengapa sebelum makan harus memcuci tangan; atau
(3) mengapa tidak boleh membuang sampah sembarangan.
                 Penanaman disiplin dengan disertai alasannya ini, diharapkan akan mengembangkan self-control atau self-discipline (kemampuan mengendalikan diri, atau mendisplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri) pada anak. Apabila penanaman disiplin ini tidak diiringi penjelasan tentang alasannya, atau bersifat doktriner, biasanya akan melahirkan sikap disiplin buta, apalagi jika disertai dengan perlakuan yang kasar.
Pada usia pra sekolah berkembang kesadaran sosial anak, yang meliputi sikap empati, “generosity” (murah hati) atau sikap “altruism” yaitu kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Sikap ini merupakan lawan dari egosentris atau “selfishness” (mementingkan diri sendiri).
Hasil pengamatan terhadap anak usia pra sekolah, membuktikan bahwa mereka tidak hanya menyadari bahwa orang lain memiliki perasaan, tetapi juga mereka aktif mencoba untuk memahami perasaan-perasaan orang laintersebut. Contohnya, ada seorang anak berusia 2,5 tahun memberikan boneka terhadap anak lain yang sedang menangis. Ini menunjukan pemahaman anak, tidak hanya berkaitan dengan kasih sayang dan pemeliharaan yang mereka terima, tetapi juga berkaitan dengan pola atau gaya kedisiplinan orang tuanya (Ambron, 1981 : 340-341).
Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak pra sekolah ini, sebaiknya orang tua atau guru-guru TK, melakukan upaya-upaya berikut.
a.       Memberikan contoh atau teladan yang baik, dalam berperilaku atau bertutur kata.
b.      Menanakan kedisiplinan kepada anak, dalam berbagai aspek kehidupan, seperti memelihara kebersihan atau kesehatan dan tata krama atau berbudi pekerti luhur.
c.       Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik melalui pemberian informasi atau melalui cerita seperti tentang : riwayat orang-orang yang baik (para nabi dan pahlawan) dunia bintang yang mengisahkan tentang nilai kejujuran, kedermawanan, kesetiakawanan atau kerajinan.



9.    PERKEMBANGAN KESADARAN BERAGAMA
            Kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.         Sikap keagamaannya bersifat reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya.
b.        Pandangan ketuhanannya bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan).
c.         Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
d.        Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat egosentrik (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya)(Abin Syamsuddin Makmun, 1996)
Pengetahuan anak tentang agama terus berkembang berkat :
(1) mendengarkan ucapan-ucapan orang tua,
(2) melihat sikap perilaku orang tua dalam mengamalkan ibadah; dan
(3) pengalaman dan meniru ucapan atau perbuatan orang tuanya.
       Sesuai dengan perkembangan intelektualnya (berpikirnya) yang terungkap dalam kemampuan berbahasa, yaitu sudah dapat membentuk kalimat, mengajukan pertanyaan dengan kata-kata: apa, siapa, dimana, dari mana dan kemana: maka pada usia ini kepada anak sudah dapat diajarkan syahadat, bacaan dan gerakan solat, doa-doa dan Al Quran.
Mengajarkan salat pada usia ini dalam rangka memenuhi tuntunan Rasulullah, bahwa orang tua harus menyuruh anaknya salat pada usia tujuh tahun, “muruu auladakum bisholaat sab’u siniin”(suruhlah anak-anakmu salat pada usia 7 tahun).
Dengan demikian, mengajarkan bacaan dan gerakan salat pada usia ini adalah dalam rangka mempersiapkan dia untuk dapat melaksanakan salat pada usia tujuh tahun tersebut.
Adapun doa-doa yang diajarkan :
(1) doa sebelum makan dan sesudahnya,
(2) doa berangkat dari rumah,
(3) doa tidur,
(4) doa untuk orang tua,
(5) doa keselamatan/kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Di samping mengajarkan hal-hal diatas, kepada anak pun diajarkan atau dilatihkan tentang kebiasaan-kebiasaan melaksanakan akhlakul karimah, seperti         (1) mengucapkan salam;
       (2) membacakan basmalah pada saat akan mengerjakan sesuatu;
       (3) membacakan hamdalah pada saat mendapatkan kenikmatan dan setelah            mengerjakan sesuatu;
       (4) menghormati orang lain;
       (5) memberi shodaqoh;
       (6) memelihara kebersihan (kesehatan) baik dari diri sendiri maupun            lingkungan (seperti mandi, menggosok gigi, dan membuang sampah pada           tempatnya).

2.5.2    FASE SEKOLAH ANAK

1.      PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadai dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan,seperti membaca, menulis dan berhitung. Disamping itu, kepada anak diberikan juga pengetahuan-peangetahun tentang manusia, hewan, lingkungan alam sekitar dan sebagainya. Untuk mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, atau penilaiannya terhadapa berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi dilingkungannya. Misalnya, yang berkaitan dengan materi pelajaran, tata tertib sekolah, pergaulan yang baik dengan teman sebaya atau orang lain dan sebagainya.

2.      PERKEMBANGAN BAHASA
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut.
a.       Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
b.      Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada usia anak memasuki sekolah dasar, sudah sampai pada tingkat :
(1) dapat membuat kalimat yang lebih sempurna,
(2) dapat membuat kalimat majemuk,
(3) dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

3.      PERKEMBANGAN SOSIAL
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Pada usisa ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosio sentries (mau memerhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), dia mera tdak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.
            Berkat perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

4.      PERKEMBANGAN EMOSI
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula prilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tau akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktifitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan disiplin dalam belajar.
            Sebaliknya, apabila yang menyertai prose situ emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiaanya untuk belajar sehingga kemungkinan besar ia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Mengingat hal tersebut, maka guru seyogyanya mempunyai kepedulian untuk memciptakan situasi belajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif.

5.      PERKEMBANGAN MORAL
Anak mulai mengenal konsep moral (mengenal benar salah atau baik-buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini (pra sekolah) merupakan hal yang seharusnya, karena informasi yang diterima anak mengenai benar salah atau baik buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya dikemudian hari.
Pada  usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar salah atau baik buruk. Misalnya, dia memandang atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan suatu yang benar atau baik.

6.      PERKEMBANGAN PENGHAYATAN KEAGAMAAN
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a.       Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian.
b.      Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indicator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya.
c.       Penghayatan secar rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusannya (Abin Syamsuddin M, 1996).
7.      PERKEMBANGAN MOTORIK
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan mtorik ini, seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik (komputer), berenang, main bola dan atletik.
2.6   Anak-Anak Sekarang Senang Dengan Internet
Internet siapa yang tak kenal dengan internet hampir semua orang membutuhkannya. Apalagi untuk kalangan anak muda kata-kata itu sangat akrab ditelinga mereka. Banyak diantara mereka menggunakannya untuk kegiatan positif. Seperti menggunakan internet untuk mengerjakan tugas, mencari lagu-lagu, dan untuk memperbanyak teman didunia maya.
Tapi selain itu internet juga membawa dampak yang buruk bagi anak karena dengan internet anak-anak menjadi malas belajar. Seperti yang penulis dengar sendiri dari pernyataan narasumber, bahwa jika mereka sudah main game di internet mereka jadi malas untuk belajar. Dan akibatnya sudah bisa ditebak prestasi mereka disekolah pasti akan turun.
Lalu bagaimana dengan orang tuanya apa tidak marah, mereka menjawab ”ya marah tapi kan abis itu selesai”. Begitu gampang mereka menjawab ”ya”, mungkin itu disebabkan karena mereka sudah kebal dengan omelan dari orang tuanya. Sehingga mereka sudah tidak takut lagi.
Hal itu terjadi karena anak-anak yang memang orang tuanya sibuk, sebagian dari mereka dirumah sendiri karena kedua orang tuanya bekerja dan mungkin juga orang tuanya sudah lelah memberitahu anaknya jadi mereka hanya membiarkannya saja.
Selain dari yang tadi diungkapkan, ada satu pernyataan lagi yang dikeluarkan oleh salah satu anak yang membuat sangat terkejut, ternyata melalui internet anak-anak tersebut dapat melihat tayangan yang berbau pornografi. Dan inilah yang juga menjadi salah satu alasan mengapa internet banyak diminati oleh anak muda.
Berdasarkan tiga dari lima anak telah menonton BF atau Bokep yaitu suatu tayangan orang dewasa yang tidak sepantasnya ditonton oleh anak-anak. Dan akibat yang ditimbulkan, apalagi selain perusakan moral anak.
Hal ini sungguh disayangkan karena sesuatu yang berbau seks akan disimpan dan melekat pada otak kanan anak. Sehingga gambaran-gambaran itu akan selalu diingat oleh anak. Akibatnya anak menj adi malas belajar dan lebih
Dari hal tersebut perlulah sikap waspada dari orang tuanya dan orang tua perlu menambahkan perhatian pada anaknya, agar anaknya kelak tidak hancur dengan kenakalanya yang diakibatkan dari kelalaiannya sebagai orang tua.









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Seorang ahli psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa kurun usia pra sekolah disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Karenanya di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan berbagai karakteristik. Dalam upaya mendidik atau membimbing anak agar mereka dapat mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin maka bagi para pendidik, orangtua, atau siapa saja yang berkepentingan dalam pendidikan anak, perlu dianjurkan untuk memahami perkembangan anak. Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Ancaman internet terutama situs-situs pornografi terhadap anak yang demikian besar bila tidak dicermati akan dapat merusak moral anak Indonesia. Mungkin akan banyak anak Indonesia akan terbius oleh pesona pornografi sehingga perkembangan mental dan moralnya akan pasti mengganggu kualitas hidup dan prestasinya. Bila ini terjadi efek domino dan mata rantai yang diakibatkan oleh paparan pornografi terhadap anak akan menimbulkan persoalan bangsa yang lebih besar lagi. Adapun berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak yaitu:
a.       Faktor-faktor sebelum lahir
b.      Faktor pada waktu lahir
c.       Faktor sesudah lahir
d.      Faktor psikologis
3.2 Saran
                  Oleh karena itu orangtua juga harus bisa menjadi sahabat yang baik bagi anaknya, karena dampak negatif dari internet berupa pornografi tidak bisa dengan mudah dicegah oleh orang tua sebab itu juga akibat dari pergaulan anak. Dan tidak mungkin juga orang tua membatasi dengan siapa anaknya berteman karena itu akan mengganggu kemerdekaan anak. Tapi diharapkan dengan memberikan pemahaman pada anak dapat meminimalisir dampak negatif dari internet, karena anak dapat membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang tidak baik untuk dirinya. Jadi anak akan tumbuh sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya dan tidak ada kata penyesalan yang terlambat dari orang tua. Kami menyadari akan kekurangan dalam makalah ini, maka pembaca dapat menggali kembali sumber-sumber lainnya, untuk menyempurnakannya. Jadi kami harapkan kritik yang membangun dari anda sekalian, untuk kami lebih bisa baik dan sempurna lagi dalam pembuatan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembacanya




























DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Yusuf Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Bandung : PT REMAJA ROSDA KARY
http://mustakimjm.blogspot.com




LANGKAH SAYA DALAM  MENGENALKAN
AJARAN TERHADAP ANAK:

A.    Ajaran Sosial

    Dalam kehidupan, kita sering mendengar kata sosial. sosial bisa diartikan sebagai hal yang berkenaan dengan masyarakat. sosial erat hubungannya dengan komunikasi. kita sebagai manusia adalah makhluk sosial, artinya, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Oleh kerena itu kita harus menanamkan dan mengenalkan  ajaran sosial kepada anak sejak dini. Hal ini sangat penting dilakukan guna mempersiapkan anak menjadi orang yang bisa bersosialisasi dengan baik dalam lingkungannya kedepan.

            Untuk  itu kita tentu harus tau hal apa yang harus kita lakukan untuk memperkenalkan sosial kepada anak. Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan ajaran sosial terhadap anak yaitu:

1.       memberikan contoh

            Anak seringkali mencontoh perilaku dan sikap dari orangtuanya. Oleh karena itu, setiap orangtua wajib menjadi cotoh yang baik bagi anak-anaknya. Dengan melihat bagaimana orangtuanya menyapa, berbicara dan bergaul dengan orang lain, hal ini akan membuat anak lebih mudah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

           
Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat, dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua terhadap anak.
            Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana ia menjadi diri pribadi atau diri sendiri. Keluarga juga merupakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya.
             Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak adalah orang tua.Jadi Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan yang mana keluarga merupakan wadah yang sangat penting di antara individu dan grup, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya, dan keluarga lah yang pertama-tama menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anak-anak.
            Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
             Oleh karena itu, anggota keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada anak.  Misalnya dengan mengajak bicara, dengan cara dia bercerita mengenai pengalaman barunya atau menceritakan mengenai suatu masalah yang sedang dialami anak. Kita harus mempunyai banyak waktu santai dengan mereka dan meluangkan waktu untuk sering liburan atau pergi kesuatu tempat yang bisa mengajarkan anak untuk bisa bersosialisasi. Misalnya ke taman, atau ke kebun binatang atau ketempat lainnya dimana anak bisa menemukan hal-hal yang baru..
2.      Biarkan Anak Berekspresi

            Berikan kesempatan pada anak untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya, seperti mengikuti kegiatan pramuka, olahraga, atau kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendorong bakat mereka. Anak akan sangat menikmati apabila mereka dapat menunjukkan bakat serta minatnya. Salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri pada anak, adalah karena anak tidak memiliki ruang untuk berekspresi.




3.       Jangan Terlalu Protektif

            Seringkali orangtua terlalu protektif terhadap anaknya, sehingga membatasi kesempatan anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain. Biarkan anak anda belajar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti menelepon temannya, bertanya kepada orang lain, atau membayar sendiri saat jajan.


4.  Perhatikan Anak Anda

            Agar dapat lebih memahami perilaku anak anda, penting bagi anda untuk memperhatikan mereka saat berinteraksi dengan orang lain. Jika anak anda pemalu, jangan terlalu memaksanya, tetapi bantulah dia untuk dapat membuka diri dengan teman-temannya. Dukungan dari orangtua sangat membantu anak untuk bersosialisasi.


5.  Jelaskan Arti Teman

            Berikan pemahaman pada anak tentang pentingnya mempunyai teman. Apabila anak anda memiliki pribadi yang tertutup, berilah mereka cukup waktu untuk membuka diri. Karena ketika mereka merasa nyaman, saat itulah mereka akan bersosialisasi dengan orang lain.


  1. Ajaran Agama
            Pendidikan agama sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir bahkan sejak anak dalam kandungan. Anak usia balita atau 0-5 tahun belum termasuk usia sekolah. Dengan demikian ia lebih banyak bersama dan berinteraksi di lingkungan keluarga terutama orang tuanya. Maka orang tua adalah segala-galanya bagi anak.
            Oleh karena itu, setiap orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih ketrampilan anak dalam melaksanakan ibadah. pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya.

            Agar agama itu dalam tumbuh dalam jiwa anakk dan dapat dipahami nantinya, maka harus ditanamkan semenjak kelahiran bayi. Dengan demikian, ada metode-metode tertentu yang harus diterapkan dalam mengajarkan agama pada anak.
            Adapun beberapa metode yang dapat diterapkan dalam mendidik anak sesuai dengan perkembangan anak tersebut, yaitu:

Ø  Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang cukup efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara  spiritual. Sebab seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru. Karenanya keteladanan merupakan salah satu faktor penentu baik buruknya anak didik. Kita ajarkan mereka untuk melakukan tata cara ibadah dengan baik, agar mereka kelak bisa melakukannya dengan baik juga.

Ø  Kebiasaan

            Yang dimaksud kebiasaan adalah membiasakan cara-cara bertindak pada anak-anak, bagaimana kita supaya bisa mendorong mereka untuk melakukan kegiatan keagamaan. Melaksanakan peribadatan dengan teratur Orang tua mendorong anaknya ikut aktif  berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan maka pembiasaan anak kepada hal-hal yang baik dalam kegiatan keagamaan baik  dalam keluarga maupun dalam kehidupan sehari-hari akan terlaksana dengan baik.  


Ø  Nasehat

            Dengan metode ini pendidik dapat menanamkan pengaruh yang baik kedalam jiwa dengan cara memberikan nasehat yang dapat mengetuk hati atau relung jiwa sang anak. Bahkan dengan metode ini pendidik dapat mengarahkan anak kepada kebaikan dan spiritualitas yang baik, serta kemajuan  dalam masyarakat.
      
            Dari beberapa  metode tersebut semuanya bertujuan untuk  penanaman nilai keimanan dalam hati generasi pelanjut yaitu anak-anak sebagai salah satu bagian dari suatu keluarga.Disnilah orang tua sebagai individu dewasa bertanggung jawab akan pendidikan keagamaan pada anaknya karena keluarga merupakan bagian kecil dari lembaga sosial yaitu masyarakat yang hidup berperadaban dan memiliki tata nilai baik itu hukum keagamaan maupun hukum kemasyarakatan.








  1. Ajaran akhlak

            Pendidikan akhlak atau yang sering disebut pendidikan karakter merupakan hal yang wajib di lakukan oleh semua manusia.   Selain sehat jasmani, keinginan terbesar  orangtua terhadap anak – anak adalah melihat mereka tumbuh menjadi anak yang memiliki akhlak mulia.

            Secara harfiah, akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.

            Kemudian untuk mewujudkan cita-cita memiliki generasi yang berakhlak atau bermartabat serta menjadi para peserta didik yang memiliki karakter yang baik, dalam hal ini akan sajikan beberapa cara untuk membentuk peserta didik yang memiliki akhlak yang baik, yaitu:

1.       Bimbing anak dengan pemahaman akan pentingnya akhlak mulia baik di mata agama maupun lingkungan.
2.       Bimbing anak dengan memberikan contoh nyata melalui perbuatan.
3.       Bimbing anak dengan pembiasaan dalam kehidupan sehari – hari.

 contoh yang dapat dilakukan sejak dini:

1.Mengajarkan anak selalu bersyukur.
2. Mengajarkan anak selalu menghormati dan menghargai orang lain.
3. Hindari memberikan kesenangan yang berlebih

            Beberapa ciri anak sehat secara rohani dapat dilihat dari kemampuannya untuk bersikap positif, aktif dan ceria, serta ekspresif. Usia golden years (1-5 tahun) merupakan usia dengan kemampuan otak menyerap informasi sangat tinggi, sehingga kits dapat mulai melakukan pembiasaan dan mengajarkan konsep positif yang akan berpengaruh pada kehidupan mereka kelak.



            Selain itu, ada beberapa hal lain yang bisa juga dilakukan, yaitu melalui:



1.       Peran Orang Tua 

             Yang paling utama dalam pembentukan akhlak peserta didik adalah peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya sedini mungkin, bahkan dimulai sejak sebelum nikah yaitu, dengan cara memilih calon pasangan hidup, kemudian sejak dalam kandungan sudah sering di perdengarkan kalimat-kalimat yang baik

2.       Peran Guru
           
            Begitu pentingnya peran guru dimana anak-anak itu bersekolah, begitu kagetnya kita saat melihat di televisi ada oknum guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak. Guru yang seharusnya menjadi orang yang di gugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang di embannya yaitu sebagai pendidik generasi.
            Selama ini banyak dari para guru hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Bagi mereka yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan. 
            Tampaknya pemerintah pun perlu belajar dari negeri-negeri lain seperti Jepang yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negeri ini dapat termotivasi tuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik.  

3.       Peran Lingkungan

             Pergaulan dari lingkungan di luar rumah terutama dari teman-teman yang tidak baik akan mengakibatkan Mereka menjadi pribadi yang rapuh dan labil, mudah terpengaruh dan melakukan apapun agar mendapatkan pengakuan akan eksistensi mereka.

             Merokok agar dibilang hebat, bergabung dengan sebuah komunitas agar dibilang gaul, berpenampilan aneh agar di bilang trendy, hingga terjerumus dalam narkoba yang dianggap dapat membuat segala masalah mereka menjadi hilang, dan pergaulan bebas untuk mencari kasih sayang yang tidak mereka dapatkan.

            Lingkungan yang buruk membentuk anak menjadi seorang yang berkarakter buruk, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan dengan kekerasan mereka menganggap masalah akan selesai padahal kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan kekerasan yang lain. Sebagai contoh adalah kasus tawuran yang  kebanyakan pemicunya adalah kekerasan yang dilakukan baik itu berupa bullying yang diterima oleh seseorang baik itu berupa ejekan, hinaan, maupun kekerasan fisik yang berujung timbulnya rasa solidaritas dari komunitas orang itu untuk melakukan pembalasan terhadap apa yang dilakukan pada teman mereka kemudian terjadilah penyerangan yang berkepanjangaan. 



4.       Peran Dari dalam diri peserta didik

             Yaitu dengan cara memberikan keteladanan, nasihat, pemahaman, penyadaran, rayuan dan hukuman yang bijaksana yang bersifat mendidik, serta adanya kemauan dan semangat yang kuat, motivasi tumbuh dari dalam diri peserta didik, maka mudah-mudahan akan ada perubahan sikap yang  mengarah lebih baik pada peserta didik itu sendiri seiring waktu pertumbuhan dan kedewasaan anak tersebut.




  1. Cita-cita
            Menumbuhkan cita-cita anak sejak dini. Kita pasti berharap agar cita-cita anak bisa diraih setinggi mungkin. Ada yang memiliki cita-cita anak menjadi dokter, pilot, pramugari, tentara, guru dan masih banyak lainnya. Tentunya butuh dukungan dan usaha dari kita sebagai modal mereka untuk meraih cita-cita anak kelak di kemudian hari.

            Berikut ini beberapa langkah yang bisa kita berikan untuk memupuk cita-cita anak sejak dini yang mungkin masih belum mereka bayangkan saat ini. Sehingga sebagai orangtua kita juga perlu menggali potensi yang terpendam dalam diri anak-anak kita untuk mendapatkan porsi dan takaran yang tepat mengenai gambaran cita-cita anak apa yang kelak diinginkan oleh mereka.
v  Beri dukungan
            Ada cita-cita anak yang bermimpi menjadi presiden, walaupun kita menganggapnya terlalu mustahil, tetapi Anda tidak boleh mengabaikannya. Berikan dukungan kepada mereka agar tumbuh rasa percaya diri sehingga mereka akan berjuang untuk mewujudkannya
v  Beri Tantangan
            Berikan tantangan kepada anak-anak agar mereka bisa berpikir lebih luas dan berusaha untuk mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah yang kita sodorkan, sehingga mereka akan terbiasa untuk berpikir lebih rasional.
v  Mengenalkan Dunia
            Kenalkan dunia baru kepada anak-anak dengan mengajaknya menemukan berbagai hal baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, dan mengajak mereka bertemu dengan orang-orang baru. Tidak ada orang yang bisa mengubah dunia ini dengan hanya mengurung diri di rumah. Bawa mereka keluar untuk 
memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka sejauh yang bisa mereka cerna.
v  Budaya Membaca
            Budayakan membaca karena membaca adalah jendela dunia. Semakin banyak pengetahuan yang terserap oleh anak-anak, mereka akan semakin berkembang lebih luas daya pikir dan kreatifitas mereka. Membaca bisa melalui buku maupun mengikuti perkembangan jaman dengan adanya internet.
v  Mengenalkan Tokoh Terkenal
            Tidak ada salahnya bila anak-anak mengagumi tokoh atau pahlawan tertentu. Kenyataannya, itu bisa menjadi cara brilian agar mereka lebih terfokus pada cita-cita anak atau ambisi tertentu. Dorong anak-anak belajar bagaimana tokoh atau pahlawan favorit mereka mengukir prestasi mereka serta bagaimana para tokoh tersebut merintis karir mereka.
v  Bermain Peran
            Permainan peran bisa mengasah kreatifitas anak. Biasanya anak-anak melakukan permainan peran ini secara naluriah. Namun, lebih baik lagi bila kita mendorong dan membuat skenario tertentu untuk mereka mainkan dengan sekelompok kecil teman-temannya.
v  Bermain Bersama
            Anak-anak akan tumbuh semakin percaya diri dengan bersosialisasi dalam lingkungan bermainnya. Di sana, mereka juga belajar bagaimana cara mempengaruhi dan berinteraksi dengan sekitarnya.



v  Mencari tahu lebih dalam
            Bila tiba-tiba cita-cita anak berubah, jangan mengoloknya. Justru ini adalah perkembangan pemikiran mereka setelah mencerna dan mengamati serta mencari tahu lebih dalam tentang cita-cita anak yang lama dan cita-cita barunya.
v  Jangan meremehkan
            Mungkin cita-cita anak tidak setinggi harapan orangtua yang kadang berpikir tentang materi. Misal mengharapkan anak menjadi seorang direktur utama di sebuah perusahaan sedangkan sang anak bercita-cita anak menjadi seniman. Jangan remehkan cita-cita anak karena apapun karir mereka, kebahagiaan adalah kekayaan yang nilainya melebihi materi.
v  Berusaha sebaik mungkin
            Apapun cita-cita anak, jangan pernah menganggapnya tidak mungkin. Segalanya bisa saja terjadi. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Selalu berikan dukungan positif terhadap anak-anak agar mereka bisa maju dan merasa mendapatkan dukungan. Itu adalah kekuatan mereka.


ENGLISH ASSESMENT TASK ( OLAH DATA)

 GROUP: DESI MARANATA ELENA .N NABILLA KHAIRUNNISA PEBRI YUNI BR HUTABARAT SRI NURANISA MAIDA DOKUMEN OLAH DATA ( ENGLISH ASSESMENT)